Wisata Sejarah Gedung Angker Lawang Sewu Semarang

Wisata Sejarah Gedung Angker Lawang Sewu Semarang

KalvinLiang.Com – Wisata Sejarah Gedung Angker Lawang Sewu Semarang. Berbagai isu penampakan hantu terkait penjara jongkok lawang sewu, ruang penyiksaan, ruang bawah tanah sejarahnya sering bisa kita temui dalam berbagai artikel. Namun kali ini kita tidak akan membahas hal tersebut. Dari pada menebak-nebak hal tersebut, ada baiknya kita pelajari sejarah tentang tersebut, serta melihat langsung ke dalam gedung agar mengetahui seperti apa gedung tersebut.  Saat ini banyak Lawang Sewu bahkan banyak dipergunakan sebagai tempat fota Pre Wedding.

Wisata Sejarah Gedung Angker Lawang Sewu Semarang

Wisata Sejarah Gedung Angker Lawang Sewu Semarang

Lawang Sewu memiliki arti Pintu Seribu berasal dari bahasa Jawa. Masyarakat Semarang menyebut gedung ini sedemikian rupa karena gedung ini mempunyai banuak pintu dan banyak jendela berukuran besar seperti pintu daslam jumlah sangat banyak. Gedung ini dirancang seorang arsitektur Belanda C.Citroen dari Perusahaan J.F. Klinkhamer saat itu dan BJ Quendag tahun 1903 hingga selesai tahun 1907. Gedung ini sempat digunakan sebagai kantor Nederland Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, yang kemudian dipergunakan perusahaan kereta api.

Bagian depan Lawang Sewu  dihiasi oleh 2 buah menara bergaya gothic yang memanjang kebelakang. Bangunan yang dibangun memberikan kesan kokohnya banguna, besar, serta angun. Arsitektur Lawang Sewu bergaya art deco yang berciri ekslusive yang berkembang pada era 1850 di benua Eropa.

Bangunan Lawang Sewu menghadap ke Taman Wilhelmina yang lebih dikenal sebagai  Tugu Muda. Di depan ini melintas rel kereta kota Semarang, jurusan Bulu – Jomblang. Foto udara hasil pengambilan 1927 banyak mendokumentasikan jalur kereta api tersebut.

Saat Jepang menguasai Indonesia menggantikan Belanda di Indonesia , ruangan bawah tanah Lawang Sewu yang sebelumnya saluran drainase air dijadikan sebagai penjara sekaligus sebagai saluran pembuangan air bawah tanah.

Gedung ini menjadi saksi pertempuran perjuangan rakyat Indonesia melawan tentara Jepang yang terkenal yaitu Pertempuran Lima Hari Semarang antara 14 Oktober 1945 hingga 19 Oktober 1945. Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut, pemerintah membangun sebuah prasasti tepat di halaman Taman Wilhelmina yang sekarang sebut Tugu Muda.

Bangunan Lawang Sewu beralih menjadi kartor jawatan kereta api  setelah kemerdekaan. Bahkan Laang Sewu sempat dipakai sebagai Kantor sementara Badan Prasarana saat itu yakti kodam IV-Diponegoro dan Departemen Perhubungan JaTeng.

Pemerintah Kota Semarang melalui SK Wali Kota 650/50/1992, mencantumkan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan bersejarah di Kota Semarang sebagai cagar budaya yang dilindungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

4,874 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.